6 Strategi Bollinger Band, 70% Investor Tidak Paham!

6 Strategi Bollinger Band, 70% Investor Tidak Paham!

Bollinger Band

Salah satu indikator yang paling kerap terdengar di dunia trading forex atau saham adalah Bollinger Band. Meskipun kerap terdengar, namun tidak semua investor paham apa itu Bollinger Band. Padahal, Bollinger Band sangat berpengaruh terhadap strategi trading agar mampu menghasilkan profit yang tinggi.

Dengan menggunakan strategi Bollinger Band, Anda dapat melakukan perdagangan dengan nyaman sesuai dengan gaya Anda. Lantas apa itu Bollinger Band dan bagaimana menerapkannya dalam trading yang menghasilkan profit? Dalam artikel ini akan dibahas mengenai 6 strategi Bollinger Band yang dapat Anda uji untuk melihat gaya mana yang paling cocok dengan karakter Anda. Simak ya!

Table of Contents

Apa Itu Bollinger Band?

Perlu Anda ketahui bahwa Bollinger Band merupakan sebuah indikator teknikal yang dibuat oleh John Bollinger (pakar finansial dari Amerika Serikat) guna mengukur volatilitas serta kisaran harga forex maupun saham. Indikator ini merangkum pergerakan harga saham serta memberikan batas harga tertinggi dan terendah. Pergerakan harga ini menunjukkan tren jangka menengah berdasarkan waktu tertentu. Selain itu, Bollinger Band juga digunakan melihat kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold).

Para investor menggunakan grafik atau indikator ini sebagai komponen analisis teknis, bahan pertimbangan dalam berbagai keputusan finansial yang dibuat, serta mengontrol sistem perdagangan. Pada Bollinger Band menampilkan grafik atau garis maksimum dan minimum serta volatilitas dalam satu grafik dua dimensi. Hal ini memungkinkan investor untuk menganalisa pasar serta membuat strategi terbaik untuk perdagangannya.

Cara Baca Bollinger Band

Untuk mempermudah investor dalam menganalisa pasar, terdapat 3 garis indikator pada Bollinger Band yang mengikuti pergerakan harga, antara lain:

  1. Upper Bands (batas/pita atas)
  2. Middle Bands (batas/pita tengah)
  3. Lower Bands (batas/pita bawah)

Dalam trading forex, indikator utama yang dijadikan acuan dalam melihat pasar adalah Upper Bands (batas atas) dan Lower Bands (batas bawah). Keduanya memiliki peran dalam melihat dan menganalisa hasil pergerakan harga pasar serta menghitung volatilitas.

Sedangkan Middle Bands (batas tengah) umumnya hanya digunakan sebagai garis batas antara Upper Bands dan Lower Bands serta menjadi tolak ukur naik turunnya harga. Middle Bands kerap disebut juga sebagai Simple Moving Average (SMA).

Dapat disimpulkan bahwa ketiga indikator tersebut dibuat untuk menahan harga agar tidak keluar dari pasar. Inilah yang membuat sekuritas jarang bahkan hampir tidak pernah menjual produk di luar batas atas maupun batas bawah dari Bollinger Band. Dalam hal ini, BOLL menggunakan ‘saluran harga saham’ untuk menampilkan tingkat harga saham. Ketika harga saham sedikit berfluktuasi, maka saluran harga saham akan menyempit. Artinya, fluktuasi harga saham sedang berada dalam masa tenang. Sebaliknya, ketika fluktuasi harga saham meningkat, maka saluran harga saham akan melebar dan berada di atas batas atas (pita atas). Ini menunjukkan bahwa volatilitas meningkat dan pergeseran harga saham akan dimulai.

Bagaimana Pengaturan Bollinger Band yang Ideal?

Untuk memahami strategi Bollinger Band, Anda perlu tahu terlebih dahulu mengenai cara membaca grafik atau indikator Bollinger Band. Pertama, pahami dulu tentang Standar Deviasi. Standar Deviasi merupakan alat untuk mengukur volatilitas harga yang menghubungkan batas atas dengan batas bawah serta pergerakan rata-ratanya.

Semakin tinggi volatilitas, maka Standar Deviasi dan profit akan semakin tinggi. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Nah, pada Bollinger Band, sudah diatur pada pengaturan (terlepas dari platform apapun yang Anda gunakan) secara default, yaitu Standar Deviasi 2 dengan panjang periode 20.

Bollinger Bands

GAMBAR DARI BROKER MITRADE

Pengaturan ini sebenarnya dapat diubah sendiri oleh investor. Namun tentunya hal ini harus disesuaikan dengan penghitungan yang logis, tidak boleh sembarangan. Itulah kenapa banyak broker pada Bollinger Band sudah tersetting secara default mengenai panjang periode dan standar deviasinya. Contohnya pada Mitrade, terdapat pengaturan secara default mengenai hal ini sehingga memudahkan trader untuk menerapkan berbagai strategi Bollinger Bands.

Banyak investor pemula yang kehilangan sedikit modal awal karena tidak paham analisis ini. Hal ini dikarenakan banyak dari mereka yang mengubah pengaturan periode dan standar deviasi. Sebenarnya hal ini tidak masalah, asalkan investor memiliki kemampuan untuk mengelola uang serta membaca peluang guna meraih profit.

Namun disarankan kepada pada investor agar tidak mengubah pengaturan standar. Lebih baik tetap menggunakan pengaturan standar dengan standar deviasi 2 dan panjang periode 20 karena nilai ini sudah tersetting secara default serta digunakan oleh sebagian besar investor. Jadi ketimbang mencari pengaturan lain yang belum tentu ideal, lebih baik gunakan pengaturan yang ada.

6 Strategi Bollinger Band Terbaik

Setelah mengetahui indikator serta pengaturan Bollinger Band, kini saatnya Anda untuk mengetahui strategi Bollinger Band untuk trading. Nantinya Anda akan tahu strategi mana yang paling pas dengan gaya trading Anda. Tentunya dengan strategi yang matang dan tepat, Anda akan menghasilkan profit yang optimal.

Berikut ini 6 strategi trading dengan Bollinger Band yang bisa Anda terapkan.

1. Strategi Double Bottom (Dasar Ganda)

Strategi Bollinger Band yang pertama adalah double bottom. Strategi ini menentukan pola harga membentuk pola “M” pada bagian atas serta pola “W” pada bagian bawah. Pada bagian bawah memiliki volume serta penurunan harga yang cenderung tajam di luar Bollinger Band.

Pola atau gerakan pada grafik ini membentuk “reli otomatis” yang menjadi dasar sebelum harga saham bergerak tinggi. Setelah kenaikan harga saham dimulai, maka cobalah untuk menguji harga di pita atau batas bawah guna menciptakan tekanan beli dari bagian bawah.

Tes harga di batas bawah menunjukkan bahwa tekanan saham ke bawah sudah mereda dan telah terjadi pergeseran dari penjual ke pembeli. Tekanan ke bawah ini nantinya mampu menciptakan kenaikan harga yang tajam hingga 100% di hari berikutnya.

2. Strategi Reversals (Pembalikan)

Strategi Bollinger Band berikutnya adalah strategi pembalikan, yaitu dengan cara memudarkan saham ketika harga mulai berada di luar pita atau batas. Ketika saham bergerak naik hingga melalui batas atas, maka tunggu dan lihatlah bagaimana kinerja saham tersebut.

Jika saham bergerak ke atas kemudian berhenti di dekat titik terendahnya dan berada di luar batas, maka hal ini kerap menjadi indikator bahwa saham akan terkoreksi dalam waktu dekat.

Segera ambil posisi rendah dengan tiga area batas atas, bawah tengah, atau batas bawah Nantinya kenaikan harga saham dari pita terendah dapat menciptakan skenario overbought (jenuh beli) jangka pendek.

3. Strategi Riding the Bands (Mengendarai Pita)

Salah satu kesalahan umum yang kerap dilakukan oleh trader pemula adalah menjual saham ketika harga berada di batas atas serta membeli saham ketika mencapai batas bawah. Namun ternyata, harga yang menyentuh pita atau batas (baik upper band maupun lower) tersebut bukanlah sinyal yang baik untuk menjual ataupun membeli.

Untuk meraih keuntungan, Anda bisa gunakan strategi Riding the Bands atau berjalan mengikuti arah pita. Lihat bagaimana harga mulai naik di luar pita dan ini merupakan waktu yang tepat bagi Anda untuk menghasilkan profit.

Nantinya ketika harga saham kembali ke tengah, Anda dapat meningkatkan posisi Anda di saham, Dan ketika tren mulai turun, ini saat yang paling tepat bagi Anda untuk keluar dari posisi.

4. Strategi Bollinger Band Squeeze (Memeras Pita)

Berikutnya, ada juga strategi Bollinger Band Squeeze untuk mengukur kinerja saham yang akan datang. Strategi ini menggunakan rumus yang cukup sederhana, yaitu nilai bollinger atas dikurangi nilai bollinger bawah lalu dibagi nilai bollinger tengah.

Anda bisa mengamati grafik harian, jika indikator mencapai level terendah dalam 6 bulan, maka volatilitas berpotensi meningkat. Lihat juga indikator lain seperti perluasan volume atau distribusi akumulasi sebagai bahan pertimbangan.

5. Strategi Snap Back to the Middle of the Bands (Kembali ke Tengah Pita)

Strategi berikutnya dilakukan dengan mengambil posisi ketika pasar kembali ke tengah garis/pita. Nantinya Anda dapat menarik uang dengan aman dalam posisi yang menguntungkan. Kunci utama dari strategi ini adalah menunggu hingga pasar kembali ke tengah sebelum Anda memasuki posisi.

Strategi ini memang cukup pasif karena sifatnya menunggu, namun Anda memiliki kesempatan besar untuk menghasilkan profit. Dan jika Anda berani mengambil risiko, Anda bisa masuk dan mengikuti kemana arah pita hingga kemudian menentukan kapan waktu yang tepat untuk keluar dari pasar.

contoh Snap Back to the Middle of the Bands

6. Strategi Trading Inside the Bands (Trading di Dalam Garis/Pita)

Strategi terakhir ini berpotensi menghasilkan untung besar, meskipun Anda harus bersabar. Perlu Anda ketahui bahwa hampir sebagian besar uang yang dihasilkan di pasar berasal dari margin. Dan mendapatkan margin merupakan tujuan utama dari strategi trading di dalam garis/pita.

Caranya, temukan saham yang berada tersangkut serta berada di batas/pita bawah namun memiliki fundamental yang baik. Semakin besar jangkauan saham tersebut, maka semakin baik. Kemudian tunggu hingga harga saham naik perlahan, dan jual ketika harga semakin tinggi dan berada di batas/pita atas. Margin atau selisih harga tersebut merupakan keuntungan besar bagi Anda.

Kesimpulan

Beberapa hal mengenai strategi Bollinger Band diatas diharapkan mampu membantu Anda untuk melakukan trading di bursa manapun dengan potensi profit yang tinggi. Dengan analisis teknikal yang tepat tentunya Anda akan lebih percaya diri dalam melakukan perdagangan serta bertransaksi di bursa. Pastikan analisis Anda tepat sehingga mampu menghasilkan profit yang tinggi. Selamat mencoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *