Peluang di Tengah Kepanikan

Peluang di Tengah Kepanikan

Sepanjang lima bulan pertama di tahun 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat kokoh mempertahankan tren kenaikannya (bullish) dengan kinerja 17,42% melampaui torehan sepanjang tahun 2012 sebesar 12,94%. Bahkan, IHSG pun terus menciptakan rekor tertinggi barunya di level 5.214,98 per 20 Mei 2013. Sayangnya, momentum laju penguatan tersebut sebenarnya kian melambat sejak Maret 2013 hingga berakhir dengan kinerja flat saat menutup Mei sebesar 0,69%.

Perlambatan laju penguatan tersebut seolah menjadi sinyal kelabu bagi kelanjutan tren bullish pasar saham Indonesia. Memasuki Juni 2013, investor saham domestik seakan mengalami mimpi buruk di mana belum mencapai separuh bulan, IHSG sudah terjungkal lebih dari 5% hingga menyentuh level 4.600. Bila dihitung dari pencapaian di level tertinggi 5.214,98, berarti IHSG sudah jatuh lebih dari 10% dalam waktu kurang dari satu bulan.

Banyak dugaan di mana kejatuhan IHSG yang seiring dengan bursa saham regional, seperti Hang Seng dan Strait Times banyak disebabkan oleh berbagai isu, baik dari faktor internal maupun eksternal yang memicu penarikan dana investor asing di bursa saham domestik. Tercatat, dana investor asing yang keluar dari bursa saham domestik sepanjang Mei 2013 mencapai Rp7,79 triliun. Ditambah dengan berlanjutnya dana investor asing yang hengkang sepanjang pekan pertama di Juni 2013 sebesar Rp5,19 triliun, maka total dana asing yang menyusut di bursa saham menjadi Rp12,98 triliun.

Beberapa isu dari faktor eksternal, di antaranya seperti rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, untuk memperkecil program stimulus moneter Quantitative Easing tahap 3 dan pemulihan ekonomi China yang masih jauh dari harapan sepanjang 2013. Sementara dari faktor internal, seperti memanasnya inflasi jelang rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS ke level terendah dalam tiga tahun terakhir seiring masih berlanjutnya masalah defisit neraca perdagangan, hingga revisi target pertumbuhan ekonomi 2013 yang lebih rendah menjadi 6,2% turun dari semula 6,8% menyusul belum jelasnya prospek pemulihan ekonomi global.

Berbicara tentang tren indeks pasar saham yang mengalami koreksi (bearish), terlebih jika dalam skala yang relatif besar, tentu memberikan dampak bagi para pemain saham, baik investor individu maupun institusi, yang terkait dengan pengambilan keputusan investasi. Misalnya, seperti mengalihkan ke saham-saham lain, mengurangi portofolio saham, atau justru menambah (mengakumulasi) saham-saham tersebut di tengah tren penurunan harga.

Bentuk keputusan yang diambil akan tergantung pada strategi dan manajemen resiko dari masing-masing investor saham. Dalam hal ini, tipe atau gaya investor yang terbilang cukup dan mungkin sudah dikenal oleh sebagian kalangan investor saham, yakni Kontrarian. Disebut Kontrarian karena gaya investasi yang diterapkan cenderung berlawanan arah dengan tren pasar saham. Misalnya, saat bursa saham dalam tren bullish, maka investor tersebut akan cenderung melakukan distribusi atau mengurangi isi portofolionya. Namun, saat bursa saham dalam tren bearish, investor tersebut justru melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham yang dianggap prospektif saat harganya mengalami penurunan.

Menjadi investor kontrarian hampir serupa dengan value investor yang hanya akan melirik saham-saham selama harga pasarnya masih jauh di bawah harga wajarnya (undervalued) yang dinilai dari segi kinerja fundamental dan prospek bisnis. Beberapa keuntungan dari gaya ini, antara lain investasi menjadi lebih terfokus pada saham-saham tertentu serta tidak mudah terbawa kepanikan pasar.

Alasannya, selama prospek usaha dari emiten saham yang bersangkutan tetap menjanjikan dalam jangka panjang, maka koreksi harga saham yang cukup dalam dikarenakan faktor psikologis pasar seharusnya bisa menjadi peluang besar bagi investor untuk menambah porsi investasi di saham tersebut.

Sebenarnya kita dapat belajar dari pengalaman sejumlah peristiwa market crash di tahun-tahun sebelumnya, baik yang terjadi dalam waktu yang cukup lama, seperti yang terjadi di tahun 2008 akibat terbawa krisis kredit perumahan di AS maupun yang terjadi dalam waktu relatif pendek, seperti di Agustus - September 2011 karena dampak kekhawatiran penyebaran krisis utang di zona Uni Eropa yang menimpa sejumlah negara besar, yakni Yunani dan Italia.

Koreksi pasar yang mencapai lebih dari 10% tentu menimbulkan kepanikan atau pesimisme sesaat terhadap investasi saham. Namun, jika ditarik dalam periode yang lebih panjang, misalnya 5 tahun terakhir dari tanggal 10 Juni 2012, sebenarnya IHSG masih dalam tren bullish yang cukup kuat dengan torehan kinerja 101,25%. Bahkan yang lebih menarik lagi, pasca krisis global 2008, IHSG memiliki rata-rata kenaikan kembali (rebound) di atas 20% dalam waktu kurang dari 1 tahun setelah mengalami tren bearish di atas 10% dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan.

Kembali pada pergerakan IHSG akhir-akhir ini yang telah terkoreksi lebih dari 10%, penulis berpendapat bahwa saat ini bisa menjadi momen untuk memulai gaya investasi kontrarian dengan melirik pada saham-saham tertentu dengan kinerja fundamental yang solid dari sektor usaha yang prospektif. Tambah lagi, hal itu juga didukung dengan kondisi fundamental ekonomi negara kita yang relatif kuat terhadap guncangan eksternal karena mayoritas ditopang oleh sektor Konsumsi dan Investasi.

Jadi, meskipun terdapat sejumlah sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri yang diperkirakan masih menghantui pergerakan pasar saham dalam jangka pendek, investor pun tidak perlu merasa khawatir. Selain itu, penulis juga memperkirakan posisi IHSG di bawah level 4.700-an menjadi zona nyaman untuk kembali masuk ke pasar saham atau melakukan akumulasi berdasarkan indikator valuasi pasar, yakni Price Earnings Ratio (PER) indeks LQ-45 yang dianggap mewakili pergerakan IHSG dengan level wajar di rata-rata 5 tahun terakhir. Berdasarkan indikator teknikal pun melalui Relative Strength Index (RSI) 14 hari menunjukkan bahwa posisi IHSG saat ini sudah jenuh jual (oversold) sekaligus mengindikasikan peluang baik untuk mulai kembali masuk ke pasar saham.

Dengan posisi IHSG terakhir yang masih bertengger di level 4.600-an, di samping menjadi peluang untuk memulai strategi kontrarian, penulis juga kembali mengingatkan agar investor perlu cermat dalam memilih saham-saham yang akan menjadi pilihan agar hasil investasi yang diperoleh bisa lebih maksimal. Happy investing!

Artikel Lainnya

Bagaimana menjual saham yang disuspensi?

05-. -2021, Oleh: Wawan Hendrayana

Disaat pandemi ini terdapat beberapa emiten saham yang secara bisnis menurun dan mengalami kesulitan hingga beberapa mengajukan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Emiten ini umumnya akan terkena suspensi pada perdagangan bursa, lalu bagaimana dengan pemegang saham nya? Apakah ada cara untuk menjual saham yang terkena suspensi?

Simpang Jalan Reksadana Terproteksi

22-. -2021, Oleh: Wawan Hendrayana

Industri reksadana yang terus berkembang melahirkan beberapa jenis reksa dana salah satunya reksadana terproteksi yang kini sedang menjadi sorotan terkait beberapa kasus gagal bayar isi portfolionya. Sekilas reksadana ini mirip dengan reksa dana pendapatan tetap, Sama-sama berbasis obligasi, sama-sama ditujukan untuk investor konservatif dengan jangka waktu investasi 3 ? 5 tahun, Jadi apa perbedaannya?

Ekonomi Tampak Membaik, Mengapa Indeks Saham Susah Bullish?

20-. -2021, Oleh: Praska Putrantyo

Merebaknya kasus Covid-19 di India memicu kekhawatiran pasar finansial terhadap berlanjutnya pandemi di tahun 2021. Tercatat, India mengalami lonjakan kasus baru di atas 100 ribu sejak memasuki April 2021 per hari. Tak hanya itu, isu peningkatan kasus Covid-19 juga terjadi di beberapa negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Singapura hingga perlu dilakukan penutupan aktivitas secara ketat (lockdown). Kabar tersebut mengaburkan kabar-kabar positif di mana sebelumnya, terdapat sejumlah rilis data-data ekonomi dari negara-negara besar, seperti Amerika Serikat (AS) dan China juga sangat positif. Pertumbuhan ekonomi AS per kuartal I-2021 secara tahunan naik 6,4% lebih baik dari periode sebelumnya. Demikian juga China dengan pertumbuhan ekonomi di periode yang sama naik 18,3% secara tahunan.

Sell In May & Go Away

08-. -2021, Oleh: Wawan Hendrayana

Pasar saham di Indonesia sedang cenderung lesu di kuartal pertama, terlihat dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pernah mencapai 7% pada bulan Januari dan terus menurun hingga akhir April hanya positif 0.28% atau kembali ke awal. Lesunya kinerja di 2021 ini karena pertumbuhan ekonomi yang memang masih terkontraksi dan juga kekhawatiran atas gelombang pandemi yang kembali memanas terutama di India. Meski demikian potensi kenaikan saham tetap ada, diantaranya banyak ekonom yakin pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua akan positif.

Saham Lesu, Apakah Investor Perlu Khawatir?

05-. -2021, Oleh: Praska Putrantyo

Gejolak pasar saham akibat pandemi Covid-19 nyatanya masih berlanjut di tahun 2021. Hal tersebut berdampak terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak 4 Januari 2021 hingga 30 April 2021 yang mencatatkan kinerja negatif sebesar -1,79% ke level 5.996. Penurunan IHSG terdalam terjadi di bulan Maret 2021 sebesar -4,11% di mana sektor Properti dan Manufaktur menjadi sektor penyumbang penurunan terbesar yaitu 12,39% dan 12,36%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *