Bank Indonesia Sampaikan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah pada Awal April

Bank Indonesia Sampaikan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah pada Awal April

Logo atau ilustrasi Bank Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO , Jakarta -Bank Indonesia menyampaikan indikator stabilitas nilai rupiah pada awal bulan ini. Perkembangan ekonomi dinilai berangsur pulih seiring terkendalinya pandemi Covid-19.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan, penyampaian ini dilaporkan secara periodik. Indikator yang dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi.

Pada Kamis, 31 Maret 2022, rupiah ditutup melemah di level Rp 14.368 per dolar Amerika Serikat. “Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik di 6,73 persen, DXY melemah ke level 98,31, dan Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 2,338 persen,” kata Erwin dalam keterangan tertulis pada Jumat, 1 April 2022.

Sebagai catatan, DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF). Sedangkan UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.

Pagi tadi, rupiah dibuka pada level Rp 14.350 per dolar Amerika Serikat. Yield SBN 10 tahun tercatat turun pada level 6,71 persen.

Kemudian aliran modal asing pada minggu kelima bulan Maret lalu, premi CDS Indonesia lima tahun turun ke level 83,15 bps per 31 Maret 2022 dari 94,13 bps per 25 Maret 2022, sejalan meredanya risk off di pasar keuangan global.

“Berdasarkan data transaksi 28-31 Maret 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 0,98 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp 2,34 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp 3,33 triliun,” ungkapnya.

Lalu berdasarkan data setelmen sampai dengan 31 Maret 2022 (year to date/ytd), nonresiden jual neto Rp 43,06 triliun di pasar SBN. Untuk beli neto tercatat Rp 30,28 triliun di pasar saham.

Erwin mengatakan, Bank Indonesia tetap akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang meningkat. “Serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *